.
seperti cerita-cerita naif sebelumnya yang kian haru dan terpenggal di beberapa fragmen. “..ah mari makan sebelum senja kian meredup.”
seperti cerita-cerita naif sebelumnya yang kian haru dan terpenggal di beberapa fragmen. “..ah mari makan sebelum senja kian meredup.”
Aku menjadi seperti ini bukan semata-mata ulah mereka
Menjadi rongsokan yang terhempaskan
Menjadi orang yang serupa bayangan rabun
seseorang, entah dimana.
Dimulai dari keterasingan dan akan kembali keterasingan, maka beruntunglah orang-orang yang terasing dan kesepian karena itu pertanda Tuhan bersama mereka..
Kenapa aku masih mencarimu sedangkan kamu tidak
mengapa aku memikirkanmu sedangkan kamu tidak
mengapa aku selalu ada untukmu sedangkan kamu tidak
mengapa hanya aku, dan kamu tidak..?
debu menanti gerimis di kaca jendela, aku ringan dan terbang diantara gelap malam, inilah rasanya menjadi tak ada.. sungguh tak ada.. mendamaikan jiwa yang telah rapuh untuk kesekian kalinya..
Apa rasanya didekap dan dipeluk tanpa pretensi? itulah surga. Izinkan aku tidur, menyusulmu ke alam abstrak dimana segalanya bisa bertemu. Pastikan kau ada disana tidak terbangun karena ingin pipis atau mimpi buruk, tunggu aku.
Begitu banyak yang ingin ku bicarakan. Mari kita piknik, mandi susu, potong tumpeng, main pasir, adu jangkrik, balap karung, melipat kertas, naik getek, tarik tambang… tak ada yangtak bisa kita lakukan bukan?
Tapi kalau boleh memilih satu: aku ingin mimpi tidur disebelahmu. Ada tanganku dibawah bantal, tempat jarimu menggapai-gapai.
Tidurku meringkuk kesebelah kanan sehingga wajah kita berhadapan. Dan ketika matamu terbuka nanti ada aku disana. Rambutku yang berdiri liar dan wajahmu yang tercetak kerut seprai.
Jika kamu memiliki arti untuk seseorang, maka dia akan selalu ada untukmu, tanpa alasan, tanpa kebohongan, dan tidak ada janji yg akan ia ingkari padamu.
Sepasang kata harum untukmu disore ungu, dari aku yang menikmati wajahmu bertabir. Siapakah dia perempuan yang telah tercipta untukku? sungguh aku ingin menemuimu..
riuh redam dalam kabut debu, seandainya bisa, aku akan memilih tidak dilahirkan. Saat tak ada lagi firasat-firasat seperti dulu, dan waktu tak ingin berhenti disini untuk sekedar tempat berkeluh kesah tentang kami..
kau minta aku berbisik menanggung rindu, sang kasih pujaan, semua kini tak sama. Dalam bisu tak pernah ada yang mampu meraih sebongkah jiwa ini, dan aku letih menanti senja, dan aku bosan berteman sepi.